SEORANG TUA DI KAKI LIMA
Berpanas terik terus perjalanan
sambil mata menoleh kekiri kekanan
mencari tapak persinggahan
di lorong jalanan jadi tempat peraduan
tidak peduli siapa lalu lalang
mata terpejam berselimut mendung hitam
bagi si tua itu lah kehidupan
dalam daif perlu di teruskan
berharap ihsan dari pemberi belas kasihan
kudrat sudah separuh hilang
dulu segalanya mampu di buat sendirian
separuh longgakkan besi di angkat
tanpa pertolongan
kini segala nya hilang
mata sudah tidak kejelasan
tangan bergetar kekebasan
namun gagah jugak mencari
sesuap untuk di mamah hari ini
kerna sisa hidup masih berbaki
terus kais mencari rezeki
bercompang camping tidak pernah di peduli
sejak terbuang tidak di hirau
darah daging sendiri
kehidupan mereka berlimpah mewah
si tua sudah tidak di kenali mereka lagi
yang dulu bergolok gadai
menanggung persekolahan demi kejayaan
kebanggaan anak itu sudah
tersenyum si tua dalam hati
tapi kini kejayaan di rangkul seorang diri
si tua di pinggir bagai pengemis
namun si tua tetap tabah menghadapi
tadah tangan memohon perjalanan
darah yang sama mengalir terus
berjaya dalam arus kehidupannya
tapi bongkaknya si anak dengan kejayaannya
di pinggir si tua terus terlupa
tinggal sehelai sepinggang itulah harta yang ada
meniti hari -hari menatap memori dalam kenangan
baginya hidup apa yang ada
teruskan kehidupan selagi bernyawa
selagi PENCIPTA menerima
dibumi ini hanya sementara
biarlah sisa hidup ini dugaan sementara ada
semoga kehidupan disana akan bahagia
inilah kehidupan si tua
jasanya tidak pernah di kenang sesiapa
terbiarlah dia di kaki lima
tiada tangis dan airmata
kekeringan beku sudah lali usia
teruskan jalanan baki yang ada
EYTAFZLIZ
18/2/12
Tiada ulasan:
Catat Ulasan